Sunday, February 12, 2006

 

Jalansutra: Parade Bunga Tomohon (Suara Pembaruan Minggu, 12 Februari 2006)

Jalansutra

Parade Bunga Tomohon

Bondan Winarno

Tentu Anda pernah dengar tentang Tournament of Roses di Pasadena, California, yang ditandai dengan arak-arakan akbar bertajuk Rose Parade. Tahun 2006 ini, tidak seperti lazimnya, parade bunga itu diselenggarakan pada tanggal 2 Januari. Padahal, biasanya selalu diadakan setiap tahun pada tanggal 1 Januari. Rupanya, mereka harus mematuhi konvensi yang berbunyi "Never On Sunday" untuk menyelenggarakan arak-arakan itu.

Biasanya, warga sudah berkumpul memadati tepi jalan yang akan dilalui parade sejak sore hari tanggal 31 Desember. Mereka berkelompok sebagai keluarga atau sekumpulan teman. Mereka berkemah di lebuh-lebuh jalan, lengkap dengan makanan dan minuman untuk merayakan pergantian tahun. Bila lelah dan mengantuk, mereka tidur dalam sleeping bag yang sudah dipersiapkan. Keesokan harinya, mereka bangun, cuci muka, sarapan, dan bersiap menonton parade yang dimulai sejak pukul delapan pagi.

Ketika pertama kali saya datang ke Pasadena untuk melihat Rose Parade, dan karena saya tidak ikut "berkemah" sejak malam sebelumnya, saya mendapat tempat di belakang, sehingga sulit melihat parade yang indah itu. Tahun berikutnya, saya datang membawa tangga lipat, dan duduk di atas tangga dengan sebotol minuman dan sekantung jajanan untuk melihat parade dengan tenang.

Parade kereta berhias bunga (float) yang panjangnya bisa mencapai delapan kilometer itu bergerak ke Utara menyusuri South Orange Boulevard dari Ellis Street, belok ke Timur di Colorado Boulevard menuju Sierra Madre Boulevard, dan mengutara kembali ke Paloma Street. Ratusan ribu penonton tersebar di sepanjang lintasan.

Parade selalu didahului oleh kendaraan Grand Marshall yang biasanya dipilih dari tokoh atau artis terkenal. Di sela-sela kereta hias, marching band atau rombongan penunggang kuda yang menampilkan berbagai tema, memberi hiburan yang menyenangkan.

Tema untuk tahun 2006 ini adalah "It's Magical". Untuk tahun 2007 nanti, temanya pun sudah ditetapkan, yaitu: "Our Good Nature". Rose Parade, dengan sejarahnya yang sudah berusia 117 tahun, memang merupakan acara yang terlembaga secara rapi. Untuk tahun 2007, panitia dan polisi telah membuat perkiraan sekitar satu juta orang akan tumplek bleg ke Pasadena. Bayangkan, berapa juta kaleng minuman, berapa ratus ribu hamburger, pizzas, tacos, dan berapa ratus kamar hotel yang akan menjadi ekonomi Pasadena karena penyelenggaraan acara tahunan itu?

Jangan lupa, Indonesia pun sudah sering tampil di parade bergengsi ini. Sejak keikutsertaannya yang pertama pada tahun 1991, Indonesia sudah enam kali berturut-turut memenangi Rose Parade di Pasadena itu. Anehnya, Indonesia malah tidak hadir dalam parade serupa yang menjadi acara tahunan di Singapura.

Jakarta pun Yayasan Bunga Nusantara - yayasan yang juga mewakili keikutsertaan Indonesia di Rose Parade dan membina Taman Bunga Nusantara - pernah menyelenggarakan Parade Bunga untuk merayakan Hari Proklamasi Kemerdekaan. Sayangnya, atraksi itu hanya sempat berjalan selama beberapa tahun, dan kemudian sirna setelah krisis mendera bangsa kita. Kota Bandung juga mempunyai acara tetap tahunan Parade Bunga untuk memeringati HUT Kota Kembang setiap bulan September.

Akhir Januari yang lalu, saya diundang Walikota Tomohon, Jefferson SM Rumayar, untuk menghadiri ulang tahun Kota Tomohon yang ketiga. Tomohon memang baru saja resmi menjadi kota - hasil pengembangan wilayah - sejak 25 Januari 2002. Kebetulan, menjelang Natal 2005 saya sudah sempat bertemu dengan Wakil Walikota Tomohon, Syenny Watoelangkow.

Jefferson yang masih muda dan penuh dinamika itu memang tampak semangat mem-promosi-kan Tomohon. Ia sadar benar bahwa Tomohon yang dulu dikenal sebagai Kota Pendidikan mempunyai aset yang lebih dari cukup untuk dikembangkan menjadi Kota Tujuan Wisata. Ia sangat senang karena saya pernah menulis komentar William Wongso yang mengatakan bahwa Pasar Tomohon adalah pasar tradisional yang terbaik di Indonesia. Ia malah akan memperbaiki pasar itu akan menjadi salah satu daya tarik wisata Tomohon.

Karena percaya bahwa budaya adalah alat perekat yang ampuh bagi keutuhan dan persatuan masyarakat, Jefferson juga punya program agar setiap desa di wilayah Kota Tomohon harus mempunyai satu kelompok tari maengket, satu kelompok musik bambu, dan satu kelompok musik kolintang.

Untuk memberi ciri khusus Tomohon sebagai Kota Bunga, Jefferson pun menetapkan acara Tournament of Flowers sebagai puncak peringatan hari ulang tahun Tomohon yang akan menjadi acara tetap setiap tahun. Ia tak ragu mengacu pada Pasadena's Tournament of Roses sebagai bahan referensi. "Yang pertama ini untuk dijadikan uji coba dulu," katanya. "Kalau nanti kami sudah cukup belajar, siapa tahu orang Minahasa yang sudah bermukim di luar negeri, dan wisatawan nusantara lainnya akan tertarik berkunjung ke Tomohon untuk melihat parade bunga ini?"

Dalam penampilan pertamanya, sejumlah 98 peserta sempat mendaftarkan diri untuk menampilkan kendaraan hias. Tetapi, karena berbagai kendala teknis, antara lain karena hujan deras yang mengguyur kota, hanya 66 floats yang tampil berparade. Menurut catatan panitia, bunga dan daun yang ditampilkan dalam parade bunga itu mencapai hampir seratus jenis.

Tomohon yang berhawa sejuk memang merupakan tempat yang cocok untuk berkebun bunga. Yang terbanyak adalah bunga lili dengan berbagai warna cerah. Menjelang Natal dan Tahun Baru, di sepanjang jalan tampak penjual bunga berbagai jenis dan warna. Kekayaan bunga juga membuat Walikota Tomohon ingin menjadikan kotanya sebagai pengekspor bunga. "Jangan lupa, Tomohon adalah kota yang sekitar tujuh puluh persen warganya adalah petani," kata Pak Walikota yang muda dan ganteng itu.

Salah satu syarat Parade Bunga Tomohon adalah menampilkan bunga dan daun asli. Bila memakai bunga dan daun plastik, peserta akan didiskualifikasi. Sayangnya, desain yang ditampilkan masih terlalu sederhana, dan belum dieksekusi dengan baik. Kendaraan yang dipakai masih tampak "telanjang", sehingga bunga dan daun se-olah-olah hanya merupakan tempelan belaka. Ini berbeda sekali dengan floats yang tampil di Pasadena yang merupakan flatbeds berukuran besar dan pengemudinya pun tersamar dengan rapi.

Yang juga disayangkan, sekalipun Sulawesi Utara dikenal kecantikan gadis-gadisnya, hanya ada satu kendaraan hias yang menampilkan gadis Kawanua. Padahal, di Pasadena, penampilan gadis cantik dan pemuda ganteng di atas kendaraan hias merupakan unsur penunjang yang sangat kuat. Unsur-unsur budaya lokal seperti penari maengket, musik bambu, dan musik kolintang pun absen dalam arak-arakan itu.

Untungnya ada dua kelompok marching band, dan satu kelompok equestrian (penunggang kuda) di sela-sela kendaraan berhias bunga yang silih berganti tampil melintasi panggung kehormatan.

Sebagai ujicoba yang pertama, Parade Bunga Tomohon patut diacungi jempol. Setidaknya dari segi semangat yang ditunjukkan. Kekayaan jenis bunga dan daun Tomohon jelas akan menjadi unsur penunjang yang signifikan, bila dibarengi dengan desain floats yang matang.

Dengan elemen-elemen yang dipunyainya, Ulang Tahun Tomohon jelas dapat dikemas menjadi sebuah festival budaya yang menarik banyak pengunjung. Parade Bunga Tomohon tidak perlu menjadi sebesar Pasadena's Rose Festival. Kecilnya Kota Tomohon dan keramahan warganya justru cocok untuk menampilkan sebuah pesta rakyat yang meriah dengan Parade Bunga sebagai salah satu atraksi utama.

Selamat Ulang Tahun, Kota Tomohon! *

Comments:
Untuk mendapatkan CP pak bondan dimana ya? Makasih
 
Untuk mendapatkan CP pak bondan dimana ya? Makasih
 
Post a Comment



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?